"You are the best of peoples evolved for mankind, You enjoin what is right and you forbid what is wrong, and you believe in Allah..." Sura Al Imran V110

12/15/2010

Puasa Di Hari Asyura (10 Muharram)

Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Alhamdulillah, saat ini kita telah berada di bulan Muharram. Mungkin masih banyak yang belum tahu amalan apa saja yang dianjurkan di bulan ini, terutama mengenai amalan puasa. Insya Allah kita akan membahasnya pada tulisan kali ini.

Semoga bermanfaat...

[Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah-membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]

Hadits yang Pertama

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ

وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits yang Kedua

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ

وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.


Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

Hadits yang Ketiga

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ

عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’,maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.

Penjelasan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.

Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang
mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)


Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya.

Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:

1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.

2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama.

3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh).


Sumber dipetik dari Akhi Iznan

7/05/2010

Pembuka Bicara / Opening Speech

As-salamu 'alaikum wa rahmatul lahi wa barakatuh!

A-thu billahi minash shaythonir rajeem. Bismillahir rahmanir raheem.

I turn away from Shaytaan, the Cursed One. And , I begin, In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

Al hamdu lillahi nahmaduhu wanasta'eenahu, wanastagh-firuhu, wanatoobu ilayhi, wana'oothu Billaahi min shuroori an-fusinaa, wamin sayyi aati a'maalinaa.

All Praise is due to Allah, We praise Him and we seek help from Him. We ask forgiveness from Him. We repent to Him; and we seek refuge in Him from our own evils and our own bad deeds.

May- Yahdillahu fa huwal muhtad, wa may- yudlill falan tajidaa lahu waliyan murshida.

Anyone who is guided by Allah, he is indeed guided; and anyone who has been left astray, will find no one to guide him.

Wa ash-hadu an Laa ilaaha ill-Allah, wahdahoo laa shareeka lah, wa ash-hadu anna Muhammadan abduhoo warasooluh.

I bear witness that there is no god but Allah, the Only One without any partner; and I bear witness that Muhammad, sws, is His servant, and His messenger.

4/28/2010

Dakwah dan Daie

1. Dakwah dan da’I tidak boleh dipisahkan dalam membangun risalah Allah.

2. Dakwah ialah menyeru manusia kepada Islam yang hanif dengan keutuhan dan kesyumulannya – dengan syiar-syiar dan syariatnya – dengan aqidah dan kemuliaan akhlaqnya – dengan metod / kaedah dakwahnya yang bijaksana dan jalan-jalan yang unik – serta cara-cara penyampaian yang benar.

"Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Surah al- Maidah – 15-16)

3. Sesungguhnya kita tidak boleh memisahkan antara dakwah dengan da’inya. – kerana seorang muslim yang memahami dakwahnya dengan pemahaman yang benar , akan tetapi kurang tepat dalam menyampaikan dakwahnya kepada manusia sama bahayanya dengan seorang muslim yang tidak memahami Islam dengan pemahaman yang benar, tetapi dia pandai berbicara, berdiskusi.

- Yang pertama - faham – tapi tidak pandai dalam pendekatan dakwah – pendekatan yang tidak berhikmah.

- Yang kedua – pendekatan baik – penyampaian baik tapi tidak ada ilmu - tidak ada kefahaman islam.

Kedua-dua merosakkan dakwah.

4. Oleh kerana itu, Islam hanya akan menjadi dakwah yang benar apabila dibawa oleh seorang da’i yang faham dan berakhlaq.

Dr. Musthafa As-Siba’i rahimahullah mengatakan : “ Musibah yang menimpa agama ini di sepanjang zaman adalah disebabkan dua golongan manusia. Yang pertama, kelompok yang salah faham atau tidak faham agama ini, dan kelompok kedua adalah mereka yang pandai berbicara dan menyampaikan tapi tiada kefahaman. Kelompok pertama menyesatkan orang mukmin, sedangkan kelompok yang kedua memberikan alasan bagi orang-orang kafir.”

5. Oleh kerana itu, seorang dae harus memahami bahawa sesungguhnya dakwah merupakan tugas para rasul Allah yang mulia. Mereka adalah para utusan Allah kepada makhluqnya, uang menyampaikan kepada mereka perintah Allah dengan bashirah ( petunjuk yang jelas ), yang kemudian tugas ini diwarisi oleh para ulamak dan aktivis dakwah yang ikhlas. Mereka berhak meraih darjat yang mulia dan pahala yang besar, sebagaimana sabda Rasulullah saw,

“ Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, ia berhak memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, ia mendapat dosanya seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa mereka.” ( HR Muslim, Malik, Abu Daud dan Tirmizi )

6. Dakwah bukanlah urusan yang mudah, akan tetapi ia merupakan amanah agung yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung. Mereka semua menolak untuk memikulnya dan merasa takut, kemudian manusia memberanikan diri menerimanya.

7. Dakwah memerlukan para dae yang mukhlis, giat dan dinamis. Kerana seorang dai adalah pendidik dan pembangun generasi. Dan berupaya memumbuhkan generasi yang berakhlaq dengan akhlaq islam.

8. Kekurangan kita bukan terletak pada manhaj, bukan pula pada jalan / saranan , akan tetapi kekurangan kita sering terletak pada syaksiyyah akhlaqiyyah ( keperibadian yang berakhlaq ) dan jati diri manusia yang islami.

Sumber daripada;
Tajuk Buku: Meniti Jalan Dakwah -Bekal Perjuangan Para Da'i
Pengarang : Fathul Bahri An-Nabiry

Doa Menuntut Ilmu

Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada Mu ilmu yang bermanfaat, amalan yang diterima dan razeki yang bagus (baik).

Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung dengan Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, doa yang tidak di dengar (makhbul) dan amalan yang tidak di naikkan (diterima).